Penyebab saraf kejepit bisa beragam. Ini merupakan penyakit yang identik dengan mayoritas penderita lanjut usia.
Namun, nyatanya saraf kejepit bisa menyerang para anak muda. Untuk itu, sebaiknya siapa saja harus lebih berhati-hati dalam mencegah penyakit ini.
Penyebab Saraf Kejepit di Usia Dini
Saraf kejepit atau Hernia Nukleus Pulposus merupakan istilah untuk menggambarkan saraf yang terhimpit dengan jaringan lunak lain. Bisa saja saraf terhimpit oleh diskus atau ligamen maupun otot yang meradang atau bengkak.
Penekanan pada saraf tersebut akan menimbulkan rasa sakit pada bagian yang tidak terdampak. Seringkali rasa sakitnya tidak tertahankan sehingga penderitanya tidak bisa bergerak dengan normal.
Meski bisa terjadi di bagian tubuh manapun, saraf kejepit lebih umum terjadi di tulang belakang, pergelangan tangan, atau leher. Para anak muda harus waspada karena penyakit ini bisa menyerap tanpa mengenal batasan usia.
Faktor Risiko Saraf Kejepit pada Usia Muda
Sebenarnya, saraf dan sendi pasti masih lebih kuat di usia muda. Namun, penyakit ini bisa terjadi karena beberapa faktor tertentu, salah satunya adalah gaya hidup.
Duduk terlalu lama, kurang olahraga dan mengangkat beban berat secara asal bisa meningkatkan risiko HNP. Jadi, para anak muda sebaiknya selalu aktif bergerak.
Saraf kejepit juga bisa terjadi karena trauma. Cedera tulang belakang seperti jatuh atau kecelakaan sangat bisa menyebabkan saraf kejepit.
Mereka yang memiliki kelainan bawaan seperti pada tulang belakang meningkatkan risiko terkena HNP. Sama halnya dengan mereka yang memiliki riwayat keluarga saraf kejepit, maka risikonya akan meningkat.
Jadi, penyebab saraf kejepit ini tidak hanya satu. Gaya hidup yang tidak baik nyatanya akan sangat mempengaruhi kemunculan penyakit ini pada anak muda.
Selalu jaga pola hidup dan tetap olahraga secara rutin. Apabila terjadi cedera tulang, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lanjutan.
Penyebab saraf kejepit yang dibiarkan bisa menyebabkan rasa nyeri luar biasa. Lama-kelamaan penderitanya bisa benar-benar terhambat pergerakannya sehingga dibutuhkan terapi yang tepat, bila perlu mengonsumsi obat-obatan.
